Desember 2, 2009

Facebook Lite saingan Twitter ?

Facebook Lite yang dikembangkan oleh pihak Facebook, dibuat bagi penggunanya agar pemakaian jejaring sosial ini bisa diakses dengan cepat dan ringan, terutama untuk koneksi di Indonesia yang diketahui mempunyai kecepatan akses Internet yang super lelet alias lambat :mrgreen: . Hanya saja fasilitas ini belum bisa dicoba di negara kita, test pertama kali dilakukan di India, kenapa mesti India ya? kenapa tidak di USA? yah..mungkin kecepatan akses internet di India sama leletnya dengan di Indonesia. :mrgreen:

We are building a faster, simpler version of Facebook that we call Facebook Lite. It’s not finished yet and we have plenty of kinks to work out, but we would love to get your feedback on what we have built so far.

Facebook Lite masih dalam taraf percobaan, dengan kehadiran Facebook Lite ini setidaknya lebih memudahkan penggunanya untuk mengakses akun Facebooknya dengan lebih cepat dibanding sebelumnya. Jika nanti Facebook Lite bisa di akses di Indonesia, kamu bisa menuju ke alamat di sini. Jangan heran jika Facebook Lite ini agak mirip FriendFeed danTwitter dengan comment enable. Kenapa mirip FriendFeed? karena FriendFeed baru saja dibeli oleh Facebook dengan harga 50 juta US dollar! Wow… satu lagi langkah besar yang diambilFacebook untuk menyaingi Twitter. :)

Bagi kita yang penasaran dan sudah mencoba membuka halaman lite.facebook.com, kita akan sedikit terkejut karena kita akan kembali ke menu beranda.. Ini dikarenakan kasus ini merupakan sebuah bug dari pengembang Facebook. Dalam sebuah pernyataan resmi, tak berapa lama setelah bug ini berhasil diatasi, Facebook mengakui bahwa mereka memang sedang melakukan uji coba terhadap platform Facebook Lite. Wujudnya akan mirip dengan Facebook Mobile. Dengan antarmuka sederhana tanpa banyak fitur, hanya ada opsi memperbaharui dan mengomentari status, menambah atau menyetujui permintaan Teman, menulis di Dinding, serta organisasi foto dan video. Sepertinya pihak pengembang sengaja menyediakan platform Lite bagi pengguna-pengguna yang enggan dibebani lamanya waktu loading akibat padatnya aplikasi.

Sebetulnya target pengujian Facebook Lite versi Beta ini adalah para pengguna baru yang umumnya ingin memulai pengalaman ber-Facebook-nya dengan mudah dan simpel. Sayangnya, terjadi kebocoran yang tak disengaja, sehingga undangan pun menyebar luas ke ribuan orang secara acak. Segera seusai menyadari kekeliruan tersebut, pihak Facebook menutup akses ke laman Lite.

Namun komentar penguji serta screenshot dari tampilan Facebook Lite kini sudah menyebar di beberapa situs. Sreeyesh Vijayan, misalnya, ialah salah satu yang beruntung memperoleh kesempatan menjadi penguji versi Beta. Beberapa hari lalu dalam postingnya di Twitter, ia berpendapat Facebook Lite tampak seperti versi sederhana Twitter, dengan tambahan fasilitas komentar. Bisa dibilang mirip juga dengan antarmuka FriendFeed — situs yang baru-baru ini diakuisisi Facebook.

Akhir-akhir ini, Facebook memang sedang gencar bersaing melawan popularitas Twitter. Tak heran jika Facebook mencoba menawarkan platform baru yang mirip situs microblogging, tapi dengan sedikit tambahan fitur. Belum lama ini pula, Facebook pun meluncurkan sistem kotak pencarian baru yang punya fungsi mirip dengan kotak pencari Twitter.

Hmm, setelah “perang” Microsoft vs Google di level vendor perangkat lunak, sepertinya tak lama lagi duel level situs jejaring sosial dapat kita saksikan. Seru!

Desember 2, 2009

Google Wave Akankah Menjadi Saingan Facebook dan Twitter

Apakah ada yang sudah lihat google wave di http://wave.google.com

Saya baru selesai nonton dia punya looooong video.
penjelasan tentang google wave sepanjang 1 jam 20 menit. pfff…. capek.

Sebelumnya aku pesimis wave bisa jadi “swiss-knive” pengganti email, instant messaging, blog, dll karena pengalaman selama ini, semua bikin barang baru, tapi jalan masing masing. kemaren jamannya irc, semua bikin account di dalnet. jaman irc ilang, orang rame rame bikin account friendster lalu plurk sekarang jamannya fesbuk twitter sedang membayangi.

Semua jalan masing masing, dan account masing masing.

Tidak seperti email, walau kita cuman punya satu account, misalnya cbn, kita bisa berkomunikasi dengan mudah dengan pengguna email lainnya, yang pakai indosat, gmail, yahoo, dll.

Kita tidak perlu punya account yahoo untuk kirim mail ke pengguna yahoo tidak perlu punya account gmail untuk kirim mail ke pengguna gmail.

Sialnya, produk jaman sekarang walau bernama “collaboration tools”, ternyata tidak berkolaborasi. twitter ya twitter. mau berkomunikasi dengan sesama twitter, ya mesti bikin account twitter. account facebook tidak bisa dipakai di twitter. begitupun hi5, plurk, dll. Semua jalan masing masing. Saling bersaing untuk mengalahkan.

Tapi ternyata wave berbeda. ini adalah opensystem. semua orang bisa menggunakannya platformnya terbuka.
protokolnya dibuka dan dikembangkan bersama di http://www.waveprotocol.org/

Jadi, nantinya seperti email. orang tidak perlu account google wave untuk menggunakan wave. bisa saja microsoft, indosat, firstmedia atau siapa saja bikin server wave, dan akan bisa saling berkomunikasi dengan semua pengguna wave lainnya.

so, ini bukan produk baru, yang bikin kita mesti punya semakin banyak account tapi justru membuat kita cukup mempunyai satu account (dan nantinya tidak harus di google), untuk segala rupa, mulai dari mail, instant messenger, blogging, microblogging, social network, instant messenger dll.

Kesimpulan: layak coba

Saya sendiri berhasil mendapat undangan dari hasil kumpul-kumpul di milis java indonesia. soalnya lama banget tunggu hasil request di situs google wave sendiri.
Ada yang mau coba? Akankah menjadi saingan serius facebook dan twitter ? kita tunggu aja keseriusan om google.

Agustus 15, 2006

Sasahidan Syekh Siti Jenar…

“Insun anakseni ing Datingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran amung Ingsun, lan nakseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun, iya sajatine kang aran Allah iku badan Ingsun, Rasul iku rahsaning-Sun, Muhammad iku cahyaning-Sun, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kan langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji, iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kukurangan ing pangerti, byar.. sampurna padhang terawang-an, ora karasa apa-apa, ora ana keton apa-apa, mung Insun kang nglimputi ing ngalam kabeh, kalawan kodrating-Sun.”

Artinya :

“Aku angkat saksi di hadapan Dzat-Ku sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Aku, dan Aku angkat saksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku, sesungguhnya yg disebut Allah Ingsun diri sendiri (badan-Ku), Rasul itu Rahsa-Ku, Muhammad itu cahaya-Ku, Akulah Dzat yg hidup tidak akan terkena mati, Akulah Dzat yang selalu ingat tidak pernah lupa, Akulah Dzat yg kekal tidak ada perubahan dalam segala keadaan, (bagi-Ku) tidak ada yg samar sesuatupun, Akulah Dzat yang Maha Menguasai, yang Kuasa dan Bijaksana, tidak kekurangan dalam pengertian, sempurna terang benerang, tidak terasa apa-apa, tidak kelihatan apa-apa, hanya Aku yg meliputi sekalian alam dengan kodrat-Ku.”

Apakah ini sesat atau ajaran yg berma’rifat kepada Tuhan atau hanya dongeng yg menghibur kita… semua terserah karena yg penting…
Kita jadi sedikit tau untuk wacana…
Kita jadi sedikit tau untuk bercermin entah itu cermin yg bagus atau buruk
Kita jadi sedikit tau bahwa Baju itu layak dipakai atau tidak….dipakai lama atau sementara dan setelah itu dibuang….terserah..

Agustus 9, 2006

The Earth Simulator, Komputer Tercepat Dunia

Super komputer Jepang yang meneliti cuaca dan aspek alam lain berhasil mempertahankan rankingnya sebagai komputer tercepat dunia, menurut penelitian yang dirilis hari Jum’at seperti dilansir CNN, Sabtu (16/11/02),

Komputer yang dikenal dengan nama The Earth Simulator berada di Yokohama, Jepang mampu menampilkan kalkulasi sebanyak 35,85 trilyun per detik, lebih besar empat setengah kali dibanding komputer tercepat masa depan.

Earth Simulator dikembangkan oleh NEC dan dioperasian oleh pemerintah Jepang, pertama kali muncul dalam daftar komputer tercepat dunia bulan Juni. Ini pertama kali super komputer muncul di luar Amerika sebagai komputer tercepat dunia.

Dua komputer baru, masing-masing dengan nama ASCI Q tampil perdana diperingkat No.2 dan No.3. Komputer ini masing-masing dapat mengoperasikan 7,73 trilyun kalkulasi per detik yang dikembangkan oleh Hewlett-Packard Co. untuk Los Alamos National Laboratory di New Mexico.

Semntara itu suatu sistem yang dikembangkan oleh Linux NetworX and Quadrics untuk Lawrence Livemore National Laboratory berada diposisi 5. Sistem yang dikembangkan High Performance Technologies Inc. untuk the National Oceanic and Atmospheric and Admistration’s Forecast System Laboratory diperingkat 8.

Hewlett-Packard memimpin dengan 137 sistem disusul International Business Machines Corp. dengan 131 sistem dan peringkat 3 diduduki Sun Microsystem Inc yang mengembangkan 88 dari 500 sistem.

Daftar Top 500 komputer tercepat dunia dirilis dua kali setahun sejak 1993, dihimpun oleh para peneliti dari Universitas Mannheim, Jerman, Departemen Energi dari Pusat Komputer Penelitian Ilmiah Energi National di Berkeley dan Universitas Tennessee. (ya2n)

Agustus 9, 2006

The Indigenous Psychology

Psikologi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku manusia, “Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental and behavioral events.”9 Tingkahlaku dan senyuman adalah ekpressi jiwa. Untuk memahami makna senyum dan aksi orang seperti Amrozi yang tersenyum ketika dijatuhi hukuman mati misalnya dibutuhkan Psikologi. Selama ini Psikologi difahami sebagai Western Psychology yang mengasumsikan perilaku dan tingkahlaku manusia sebagai sesuatu yang universal, tetapi yang sesungguhnya Psychology Barat hanya benar untuk menganalisis manusia Barat, karena sesuai dengan kultur sekuler yang melatarbelakangi lahirnya ilmu tersebut. Di belahan dunia lain, perilaku manusia dipengaruhi oleh sistem nilai yang berbeda dengan sistem nilai masyarakat Barat. Apa yang diklaim sebagai human universals, haruslah diuji sahih dengan multiple indigenous psychology.

Indigenous psychology dapat didefinisikan sebagai pandangan psikologi yang asli pribumi, yang tidak trasported dari wilayah lain, dan memang didesain khusus untuk masyarakat itu. Dengan kata lain indigenous psychology adalah pemahaman yang berdasar pada fakta-fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat.

Memahami senyum Amrozi misalnya tidaklah cukup hanya dengan membandingkan senyuman orang Barat. Ia harus dicari akarnya pada cultur Jawa Timur, cultur santri, cultur pekerja wiraswasta dan cultur pejuang bersenjata (mujahid, muqatil), karena dia bukan hanya sekedar orang Lamongan, tetapi ia dan teman-temannya (Imam Samudera cs) pernah terlibat dalam perang (fisik dan mental) melawan penjajah Uni Sovyet di Afganistan, sebagai pejuang anti penjajah komunis kafir (mujahid) dan petempur di lapangan (muqatil), dan uniknya, dilatih oleh instruktur CIA (Amerika).

Islamic Indigenous Psychology
Jiwa bukan hanya dibahas oleh Psikologi dan filsafat, tetapi juga oleh agama. Al Qur’an (dan hadis) lebih dari 300 kali berbicara tentang jiwa (nafs), tetapi perbedaan sejarah keilmuan Islam menyebabkan ilmu semacam psychologi tidak lahir dari peradaban Islam. Di Barat pertumbuhan ilmu pengetahuan terpisah sama sekali -bahkan bermusuhan- dengan Gereja, oleh karena itu psychology (dan ilmu lainya) sama sekali tidak dibimbing oleh agama (Gereja), dan oleh karena itu Psychology tidak menyentuh iman, dosa dan keyakinan kepada akhirat, mengenal sehat dan tidak sehat tetapi tidak mengenal baik buruk. Psikologi Agama pun sebagai ilmu Barat tidak berbicara tentang kebenaran agama tetapi tentang bagaimana pengalaman beragama mempengaruhi tingkah laku penganutnya.

Dalam sejarah keilmuan Islam, al Qur’an sangat mendorong penganutnya untuk menggunakan akalnya. Perjalanan ilmu pengetahuan bukan saja diilhami oleh kitab suci, tetapi juga dikawal oleh para ulama. Kajian tentang jiwa tidak dibahas sebagai tingkah laku, tetapi dibahas dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan, oleh karena itu ilmu yang lahir bukan psikologi, tetapi ilmu akhlak dan tasauf. Ilmu akhlak berbicara bagaimana memperbaiki perilaku manusia, sedangkan tasauf berbicara tentang bagaimana manusia bisa merasa dekat (mendekatkan jiwa) dengan Tuhan. Islamic Psychology adalah satu kajian yang bernuansa psikosufistik, bersumber dari al Qur’an sebagai sumber utama, dengan assumsi bahwa al Qur’an adalah brosur tentang jiwa yang dikeluarkan oleh Sang
Pencipta. Disamping al Qur’an juga dari hadis dan tradisi keilmuan Islam, ditambah penelitian empirik. Psikologi Barat digunakan sebagai alat bantu untuk memahami ayat al Qur`an dan konsep-konsep psikologi, karena ternyata jejak-jejak pemikiran Ibn Sina tentang pengobatan jiwa, Ibn Sirin tentang tafsir mimpi, Imam Gazali, al Muhasibi tentang kajian pribadi ternyata sudah diserap dalam Psikologi Barat.

Jika Psikologi modern dibatasi hanya untuk menguraikan, meramalkan dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku manusia, “Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental and behavioral events, Psikologi Islam menambahkan tugasnya; juga untuk bagaimana membentuk tingkah laku yang baik serta mendorong manusia agar merasa dekat dengan Tuhan. Teori Sepeda Motor Harus diakui bahwa Psychology sebagai ilmu pengetahuan sudah sangat maju, kaya dengan methodology dan kaya dengan hasil penelitian empiric, sementara Psikologi Islam masih sangat miskin dengan penelitian empiric. Ibarat sepeda motor, Barat langsung menaiki sepeda motor itu ke berbagai medan jalanan tanpa melihat brosur dari pabriknya. Dari pengalaman lapangan yang banyak itu Barat sudah memiliki banyak pengetahuan tentang karakteristik sepeda motor itu. Tetapi karena tidak membaca brosur dari pabrik, maka Psikologi barat sering mengalami trial and error. Lihat saja bagaimana perkembangan lahirnya teori Psikoanalisa, behaviourisme, Kognitip hingga Humanisme.. Sekarang Barat baru saja meraba-raba wilayah kecerdasan spiritual yang sesungguhnya lebih merupakan wilayah agama. Pada saatnya nanti pasti akan ketemu, bahasan kecerdasan spiritual Psikologi dan kecerdasan ruhaniyah tasauf (agama).

Sedangkan Psikologi Islam, ketika melihat sepeda motor, yang pertama kali dilakukan adalah membaca brosurnya dari pabrik. Al Qur’an adalah brosur tentang manusia (dan jiwanya) yang disusun oleh sang Pencipta. Sekarang Psikologi Islam baru menguasai karakteristik sepeda motor itu dari bahan-bahan yang ada di brosur, belum banyak pengalaman empiric di lapangan. Pada saatnya nanti, ketika Psikologi Islam juga sudah kaya dengan pengalaman empiric, Psikologi Islam akan bisa menjadi mazhab ke lima setelah Psikologi Humanisme The concept of Islamic Psychology Sebutan insan dalam al Qur’an bermakna manusia sebagai makhluk psikologis, insan berasal dari kata nasiya yansa yang artinya lupa, dari `uns yang artinya harmoni dan mesra, dan dari kata nasa yanusu yang artinya bergejolak. Jadi psikologi manusia berada diantara wilayah kesadaran hingga lupa, dari wilayah mesra hingga benci, dan dari wilayah bergejolak hingga tenang. Menurut al Qur’an desain kejiwaan manusia diciptakan Tuhan dengan sangat sempurna, berisi kapasitas-kapasitas kejiwaan; berfikir, merasa dan berkehendak. Jiwa merupakan sistem (disebut sistem nafsani), terdiri dari subsistem `Aql, Qalb, Bashirah, Syahwat dan Hawa.

1. `Aql (akal) merupakan problem solving capacity, yang kerjanya berfikir dan bisa membedakan yang buruk dari yang baik. Akal bisa menemukan kebenaran tetapi tidak bisa menentukannya, oleh karena itu kebenaran `aqly sifatnya relatif.

2. Qalb (hati), merupakan perdana menteri dari sistem nafsani. Dialah yang memimpin kerja jiwa manusia. Ia bisa memahami realita, apa yang aqal mengalami kesulitan. Sesuatu yang tidak rationil masih bisa difahami oleh qalb. Di dalam qalb ada berbagai kekuatan dan
penyakit; seperti iman, cinta dengki, keberanian, kemarahan, kesombongan, kedamaian, kekufuran dan sebagainya. Qalb memiliki otoritas memutuskan sesuatu tindakan, oleh karena itu segala sesuatu yang disadari oleh qalb berimplikasi kepada pahala dan dosa. Apa yang sudah dilupakan oleh qalb masuk kedalam memory nafs (alam bawah sadar), dan apa yang sudah dilupakan terkadang muncul dalam mimpi. Sesuai dengan namanya qalb, ia sering tidak konsisten.

3. Bashirah (hati nurani), adalah pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala. Berbeda dengan qalb yang tidak konsisten, bashirah selalu konsisten kepada kebenaran dan kejujuran. Ia tidak bisa diajak kompromi untuk menyimpang dari kebenaran. “,1] ); //–> Bashirah disebut juga sebagai nuraniy, dari kata nur, dalam bahasa Indonesia menjadi hati nurani. Menurut tasauf, bashirah adalah cahaya ketuhanan yang ada dalam hati, nurun yaqdzifuhullah fi al qalb. Introspeksi, tangis kesadaran, relegiusitas, god spot, bersumber dari sini.

4. Syahwat adalah motif kepada tingkahlaku. Semua manusia memiliki syahwat terhadap lawan jenis (seksual), bangga terhadap anak-anak, menyukai benda (dan segala sesuatu yang) berharga, kendaraan bagus (gengsi dan kenyamanan), ternak dan kebun. Syahwat adalah sesuatu yang manusiawi dan netral. Menunaikan syahwat secara benar dan halal bernilai ibadah. Memanjakan syahwat berpotensi pada dosa dan kejahatan.

5. Hawa (hawa nafsu) adalah dorongan kepada obyek yang rendah dan tercela. Perilaku kejahatan, marah, frustrasi, sombong, perbuatan tidak bertanggung jawab, korupsi, sewenang-wenang dan sebagainya bersumber dari hawa. Karakteristik hawa adalah ingin segera menikmati apa yang diinginkan tanpa mempedulikan nilai-nilai moralitas. Orang yang mematuhi tuntutan hawa, tindakannya cenderung destruktif. Dalam bahasa Indonesia disebut hawa nafsu, atau menurut teori Freud disebut id.

Materi psikologi Islam tersebar di literatur klassik abad pertengahan, dibutuhkan kerja keras mengolah bahan yang baru bernuansa psikologi menjadi psikologi Islam. Jika sekarang masih ada orang yang menganggap Psikologi Islam itu tidak ada, itu karena orang itu belum tahu, persis seperti ketika bank Islam (bank tanpa bunga) diperkenalkan di Indonesia, masyarakat perbankan memustahilkan adanya bank tanpa bunga. Seekarang semua bank konvensional membuka bank Islam ( di Indonesia disebut bank syari`ah), yang pertama buka bernama bank mu`amalah, terutama setelah terbukti system bank syari’ah paling kuat ketahanannya menghadapi krisis moneter.

Wassalam,
agussyafii
http://mubarok-institute.blogspot.com

Agustus 9, 2006

Cara Menyucikan Hati

Hati itu bagaikan kaca mata. Kalau kita menggunakan kaca mata yang bening, apa yang kita lihat akan tampak apa adanya. Yang putih akan jelas putihnya, yang coklat muda akan jelas warna aslinya. Namun kalau kita menggunakan kaca mata hitam, apa yang kita lihat tidak akan sesuai aslinya. Yang putih akan kelihatan abu muda dan warna coklat muda akan menjadi coklat tua. Demikian juga hati, kalau hati jernih, kita akan melihat realita itu apa adanya, sementara kalau hati kita kotor atau hitam, kita akan melihat realita itu tidak seperti sebenarnya.

Oleh karena itu, mulia tidaknya seseorang tidak dilihat dari tampilan lahiriahnya tapi dari performa batiniah atau hatinya. “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta-hata kamu tapi melihat hati dan perbuatanmu.” (H.R. Muslim).

Al Qurtubi berkata, “Ini sebuah hadits agung yang mengandung pengertian tidak diperbolehkankannya bersikap terburu-buru dalam menilai baik atau buruknya seseorang hanya karena melihat gambaran lahiriah dari perbuatan taat atau perbuatan menyimpangnya. Ada kemungkinan di balik pekerjaan saleh yang lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang menyebabkan perbuatannya tidak sah dan dimurkai Allah swt. Sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya atau bahkan berbuat maksiat, ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah swt. memaafkannya.

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan lahir itu hanya merupakan tanda-tanda dhanniyyah (yang diperkirakan) bukan qath’iyyah (bukti-bukti yang pasti). Oleh karena itu tidak diperkenankan berlebih-lebihan dalam menyanjung seseorang yang kita saksikan tekun melaksanakan amal saleh, sebagaimana tidak diperbolehkan pula menistakan seorang muslim yang kita pergoki melakukan perbuatan buruk atau maksiat. Demikian Imam Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya. Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat lain,
“Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena hatinya ditutup oleh awan, ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar.” (H.R.Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberikan ilustrasi yang sangat indah. Hati manusia itu sesungguhnya bersih atau bersinar, namun suka tertutupi oleh awan kemaksitan hingga sinarnya menjadi tidak tampak. Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan awan yang menutupi cahaya hati kita. Bagaimana caranya?

1. Introspeksi diri
Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.Al-Hasyr 59 : 18)

2. Perbaikan Diri
Perbaikan diri dalam bahasa populer disebut taubat. Ini merupakan tindak lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita akan menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah, kekurangan-kekurangan tersebut harus kita perbaiki secara bertahap. Alangkah rugi kalau kita hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya.
“Hai orang-orang yang beriman, Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkah kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,..” (Q.S.At-Tahrim 66:8)

3. Tadabbur Al Qur’an
Tadabbur Al Qur’an artinya menelaah isi Al-Qur’an, lalu menghayati dan mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk. Nah, di antara pupuk hati adalah tadabbur Qur’an. Allah menyebutkan orang-orang yang tidak mau mentadabburi Qur’an sebagai orang yang tertutup hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka tadabburi Qur’an.
“Mengapa mereka tidak tadabbur (memperhatikan) Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci atau tertutup.” (Q.S.Muhammad 47 : 24)

4. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh
Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridoi Allah swt. Apabila kita ingin memiliki hati yang bening, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita biasa pergi ke majelis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk. Rasulullah saw bersabda,
“.Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit.” (H.R. Bukhari)

5. Mengisi Waktu dengan Zikir
Zikir artinya ingat atau mengingat. Dzikrullah artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam zikir. Pertama, zikir Lisan, artinya ingat kepada Allah dengan melafadzkan ucapan-ucapan zikir seperti Subhannallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha illallah, dll. Kedua, Zikir Amali, artinya zikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran-ajaran Allah swt. dalam kehidupan. Misalnya, jujur dalam
bisnis, tekun saat bekerja, dll. Hati akan bening kalau hidup selalu diisi dengan zikir lisan dan amali.
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.S.Al-Ahzab 33 : 41-42)
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
(Al-Baqarah 2 :152)

6. Bergaul dengan Orang-Orang Saleh
Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Karena itu, kebeningan hati erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita. Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah Allah, tekun bekerja, semangat dalam belajar, dll., diharapkan kita akan terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang pendendam, pembohong, pengkhianat, lalai akan ajaran-ajaran Allah, dll., dikhawatirkan kita pun akan terseret arus kemaksiatan tersebut. Kerena itu, Allah swt.. mengingatkan agar kita bergaul dengan orang-orang saleh seperti dikemukakan dalam ayat berikut.
“Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di waktu pagi dan petang, mereka mengharapkan keridoan-Nya, dan janganlah kamu palingkan kedua matamu dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya; dan adalah keadaan itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18 : 28)

7. Berbagi Kasih dengan Fakir, Miskin, dan Yatim
Berbagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kebeningan hati, sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang lain. Rasulullah saw. bersabda,
“Abu Hurairah r.a. bercerita, bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah saw. tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau saw. menegaskan, “Bila engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah orang-orang miskin dan sayangi anak-anak yatim. (H.R. Ahmad).

8. Mengingat Mati
Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk mengarungi kehidupan. Kebeningan hati berkaitan erat dengan kesadaran bahwa suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan manipis dan akhirnya habis. Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan hati dari awan kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah saw. menganjurkan agar sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening.
“Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dulu, aku pernah melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang, berziarahlah, karena ia dapat melembutkan hati, mencucurkan air mata, dan mengingatkan akan hari akhirat.” (H.R.Hakim)

9. Menghadiri Majelis Ilmu
Hati itu bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Di antara pupuk hati adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majelis ilmu akan menjadi media pensucian hati. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa Allah swt. akan menurunkan rahmat, ketenangan dan barakah pada orang-orang yang mau menghadiri majelis ilmu dengan ikhlas. “Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malakikat akan menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah akan menyebutnya pada kumpulan (malaikat) yang ada di sisi-Nya.”(H.R. Muslim)

10. Berdo’a kepada Allah swt.
Allah swt. Maha Berkuasa untuk membolak balikan hati seseorang. Karena itu sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan dari hati yang busuk dan diberi hati yang hidup dan bening. Menurut Ummu salamah r.a,. do’a yang sering dibaca Rasulullah saat meminta kebeningan hati adalah: Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku berpegang pada agama-Mu). Perhatikan riwayat berikut,.
“Syahr bin Hausyab r.a. mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai ibu orang-orang yang beriman, do’a apa yang selalu diucapkan Rasulullah saw. saat berada di sampingmu?” Ia menjawab: “Do’a yang banyak diucapkannya ialah, ‘Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbuku pada agama-Mu).” ” Ummu Salamah melanjutkan, “Aku pernah bertanya juga, “Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau membaca do’a: “Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika.” Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang Maha
Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan.” (H.R.Ahmad dan Tirmidzi. Menurutnya hadits ini hasan)

Selain do’a di atas, Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa ketika menginap di rumah Rasulullah saw., ia pernah mendengar beliau mengucapkan do’a berikut, “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya, di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan di belakangku cahaya, di hadapanku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya. Ya Allah berikan kepadaku cahaya.” (H.R.Muslim)

Kesimpulannya, hati merupakan panglima untuk seluruh anggota jasad kita. Kalau hati bening, kelakuan kita pun akan beres. Tapi kalau hati kita busuk, seluruh amaliah pun busuk. Ada sepuluh cara agar kita memiliki hati yang suci, yaitu; Introspeksi diri, perbaikan diri, tadabbur Qur’an, menjaga kelangsungan amal saleh, mengisi waktu dengan zikir, bergaul dengan orang-orang saleh, berbagi kasih dengan fakir miskin dan anak yatim,
mengingat mati, menghadiri majelis ta’lim, dan berdo’a kepada Allah swt. Mudah-mudahan Allah swt. selalu memberi kepada kita hati yang bening. Amiin Wallahu A’lam

sumber : www.percikan-iman.com

Juli 27, 2006

Menatap Makassar dari Geladak Kapal Dagang

Sejarah senantiasa berisi perbuatan-perbuatan besar. Juga kisah-kisah yang kita dengar dari sumber-sumber besar, dari mereka yang menguasai jagat wacana berikut agenda settingnya. Olehnya itu, kalau ada secuil fakta kecil yang abai dituturkan, namun belakangan terbukti bahwa peristiwa tersebut sangat berpengaruh dalam pembentukan masyarakat pada kurun selanjutnya, maka apa yang harus dilakukan?

Nurhady Sirimorok, dalam konteks sejarah Sulawesi Selatan, menyarankan untuk menambal “lubang besar” tersebut, dengan mengubah sudut pandang riset dan penelitian yang semoga dapat dilakukan. Ia menyebut pengislaman Luwu oleh Dato’ Ri’ Patimang sebagai satu titik awal yang strategis. Kelak, peristiwa kecil yang terabaikan ini akan menjadi simpul pangkal dalam memahami banyak peristiwa besar dalam khasanah Sulawesi Selatan, terutama dalam memahami posisi, peran dan eksistensi Islam dalam benak dan kesadaran kebudayaan daerah tersebut. Ini mungkin hanya soal sudut pandang, tetapi tentu saja riset serius ini akan benar-benar mengisi kekosongan dimaksud. Setidaknya, akan menjadi pengimbang bagi mainstream kesadaran sejarah masyarakat Sulawesi Selatan masa kini.(p!)

Lebih empat ratus tahun lalu, pada Februari 1605, Sulaiman—kelak lebih dikenal dengan nama Dato’ ri Pa’timang—mengislamkan Luwu’. Ini merupakan awal dari Islamisasi besar-besaran Sulawesi Selatan yang berlangsung amat luas dan cepat. Fenomena ini mengubah wajah jazirah ini, membawanya ke zaman kejayaannya.

Namun sayang, peristiwa besar ini jarang dijadikan sebagai pijakan dalam melihat perkembangan peradaban di Sulawesi Selatan. Salah satu alasannya, determinasi ekonomi terlalu dominan dalam studi sejarah kawasan ini. Ekonomi dijadikan sebagai faktor utama penggerak perubahan. Padahal, tema ini mesti diperluas untuk lebih lengkap merekonstruksi sejarah masa itu.

Salah satu alasan utama mengapa tema ini mesti diperlebar adalah untuk mengikis kecenderungan ilmuan yang hanya memperhatikan aspek ekonomi dalam mengkaji sejarah Asia Tenggara. William Cummings (2002) dalam bukunya Making Blood White, mengkritik Anthony Reid yang menjadikan perdagangan sebagai titik sentrum perkembangan politik di Asia Tenggara. Reduksi ini, menurutnya, bahkan sudah tergambar jelas dalam judul kecil buku Reid (1993), In The Age Commerce (‘Dalam Kurun Dagang’ menurut terjemahan Mochtar Pabottingi).

( Foto: Pelabuhan Kapal Dagang di Sul-sel )

Dalam bukunya ini, Cummings melihat bahwa rekonstruksi sejarah akan bolong di sana-sini jika hanya memperhatikan sumber sejarah dari catatan Eropa. Pendatang Eropa yang bertandang ke Makassar pada masa itu didominasi para pedagang pengelana, atau perusahaan dagang. Tak pelak, catatan yang ditinggalkannya, yang kini tersimpan rapi di berbagai perpustakaan di Eropa, adalah catatan yang berhubungan dengan perdagangan.

Dalam bukunya ini, Cummings melihat bahwa rekonstruksi sejarah akan bolong di sana-sini jika hanya memperhatikan sumber sejarah dari catatan Eropa. Pendatang Eropa yang bertandang ke Makassar pada masa itu didominasi para pedagang pengelana, atau perusahaan dagang. Tak pelak, catatan yang ditinggalkannya, yang kini tersimpan rapi di berbagai perpustakaan di Eropa, adalah catatan yang berhubungan dengan perdagangan.

Kecenderungan ini juga diungkap Taufik Abdullah dalam pendahuluan buku Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara (1999). Dia mengutip van Leur bahwa sejarah Indonesia selalu ‘dilihat dari dek kapal dan jendela loji’, yakni hanya dari perspektif barat, dan bersifat fragmentaris. Mengikuti garis pemikiran orientalisme Edward Said, dia menuding sejarawan barat cenderung melakukan seleksi bahan baku sebelum mengkaji sebuah masa di sebuah tempat. Sehingga tak heran jika yang mencuat adalah tema-tema yang mereka inginkan. Mereka cenderung mengabaikan sumber-sumber yang berhubungan dengan Islam, sebagaimana juga dibeberkan dengan nada jengkel oleh Nancy Florida dalam bukunya tentang naskah-naskah Jawa abad 19, Menyurat yang Silam Menggurat yang Menjelang: Sejarah Sebagai Nubuat di Jawa Masa Kolonial (2003 [1995]).

Kembali ke Makassar. Bila kita hendak merekonstruksi sejarah Makassar abad ke-17, setidaknya ada dua tema yang cukup penting untuk diperhatikan. Pertama, penyebaran Islam, yang dengannya terbawa perubahan dalam struktur sosial-politik, perubahan paradigma kecendikiaan dan kepercayaan religius masayarakat Gowa pada masa itu. Dan kedua, berkembangnya budaya tulisan.

* * *

Diadopsinya Islam oleh Raja Tallo dan Gowa pada tahun 1605, telah membawa perubahan pada struktur pemerintahan Gowa (meski Islam kemungkinan telah bersentuhan dengan negeri ini sejak seabad sebelumnya). Raja dijadikan pemimpin religius, dan posisi kadhi menjadi penting di istana Gowa. Hal ini menjelaskan mengapa pada masa itu posisi kalompoang (regalia) kerajaan menjadi tidak lebih penting dibanding raja. Menurut Cummings (2002) pada abad ke-16 dan 17, posisi raja lebih tinggi dari kalompoang, sementara setelah jatuhnya Makassar ke tangan Belanda, posisi kalompoang kembali direhabilitasi sebagai ‘perwujudan’ si empunya kerajaan, yaitu para dewa.

Datangnya ajaran Islam menghubungkan Makassar dengan dunia Islam yang membentang di sepanjang Asia. Dalam buku Jaringan Ulama, Azyumardi Azra (2004), memasukkan Syaikh Yusuf sebagai penyebar agama Islam di wilayah ini. Dan dengan demikian, Makassar menjadi salah satu sentrum dalam penyebaran ajaran Islam. Ia mendebat bahwa abad ke-17 merupakan masa yang penting, meski sering dianggap masa ‘gelap’ Islam, karena kajian sejarah yang menekankan pada entitas politik, yang memang sedang mengalami surut pada masa itu. Ia ingin membuktikan bahwa abad-17 dan 18 adalah masa paling dinamis dalam ‘sejarah sosial intelektual Islam’ di Asia Tenggara.

Di Sulawesi Selatan, penyebaran ajaran Islam dan pembaruan yang mengiringinya tidak berjalan mulus. Menurut Pelras dalam The Bugis (1996), sekitar tahun 1575, Abdul Makmur (Dato’ ri Bandang), seorang pendakwah Islam asal Minangkabau tiba di Sulawesi Selatan untuk pertamakalinya. Dalam upayanya menyebarkan ajaran Islam, ia terhambat pada berbagai hal seperti kegemaran masyarakat makan daging babi kering, hati rusa mentah yang dicincang dan disajikan dengan darah (lawa’), serta kebiasaan minum tuak. Karena merasa tidak mampu, dia pindah ke Kutai, di mana ia lebih berhasil.

Pelras juga mengungkap kendala lain yakni resistensi kaum bangsawan penguasa. Menurutnya, “Keengganan penguasa-penguasa ini mungkin berhubungan dengan prinsip egalitarian para pedagang yang tidak berasal dari kelas bangsawan, serta penekanan Islam akan Mahaesa dan Mahatinggi-nya Tuhan. Konsep ini dikhawatirkan akan mengancam kekuasaan para penguasa Bugis, yang terlanjur memperoleh kekuasaan berdasarkan status mereka sebagai keturunan dewata.”

Ajaibnya, dalam catatan seorang jesuit Perancis, Nicholas Gervais, yang ditulis dalam Historical Description of The Kingdom of Macassar (1688), memperlihatkan hal yang sebaliknya. Ia menyajikan banyak deskripsi menarik dari fakta-fakta tentang kehidupan religius orang Makassar pada abad ke-17—meski tak luput dari beberapa kesalahpahaman. Dalam deskripsinya terlihat bahwa peran para Ajji (Haji) begitu besar dalam kehidupan orang Makassar. Peran penting mereka bukan hanya pada ritual Islam seperti salat, tetapi juga pada upacara kelahiran, sunatan, pernikahan, hingga kematian. Para Ajji juga menjadi tokoh kunci dalam pendidikan anak-anak, misalnya mengajar mengaji dan pengetahuan agama, serta membina para labe (lebai) dan santari (santri).

Fenomena ini membuat heran ahli Sulawesi Selatan sekaliber Christian Pelras sekalipun. Dia bertanya-tanya, “setelah resistensi yang begitu hebat, ternyata hanya perlu waktu beberapa tahun saja sebelum hukum (syariat) Islam mulai diberlakukan, dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kebudayaan Makassar, Bugis, dan Mandar” (Pelras 1996).

* * *

Berkembangnya tradisi tulis menyebabkan sentralisasi politik di Makassar semakin efektif. Lontara’ menjadi salah satu alat untuk menunjukkan superioritas Gowa, sesuatu yang amat penting bagi kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan pada masa itu. Dalam buku Warisan Arung Palakka, Andaya (2004 [1981]) mengungkapkan bahwa konsep mare liberum, kebebasan di laut, hanya berlaku setelah strata kerajaan ditetapkan. Jika ada yang mencoba mengganggu status ini dengan alasan apapun, termasuk perdagangan, itu berarti mengancam status kerajaan—bukan hanya perdagangannya.

Menurut Cummings (2002), setelah jatuhnya Makassar lontara’ bilang tidak ditulis lagi, karena telah kehilangan makna. Superioritas telah lenyap dan masa suram tak pantas untuk ditulis. Hal ini menjelaskan mengapa orang Makassar tidak menulis catatan perdagangan dan pelabuhan, sastra atau religius tract. Kebanyakan hanya merupakan terjemahan, dan sinrili’ justru ditulis dari tradisi lisan. Mereka hanya menulis sejarah. Sejarah tentang penguasa.

Selain itu, aksara juga memegang peranan penting dalam penyebaran ajaran-ajaran Islam, yang berarti mengangkat masyarakatnya dari dunia animisme ke dunia yang lebih mengandalkan akal. Ulama Syaikh Yusuf menyumbangkan banyak risalah keagamaan untuk masyarakat Sulawesi Selatan. Padahal sebelumnya tulisan di atas daun lontar ini bagi kebanyakan masyarakat hanya dijadikan alat sesembahan atau sebagai jimat. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya jika ajaran Islam tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Makassar. Cummings (2002) mencatat bagaimana tulisan arab digunakan sebagai mantra karena tidak dipahami. Hal serupa pernah terjadi pada agama Kristen, di mana kaum gereja memegang otoritas kebenaran, dan bertindak otoriter hingga Martin Luther menerjemahkan Injil ke bahasa Jerman.

Tulisan juga berperan membawa Makassar pada abad ke-17 ke dalam pusaran teknologi. Pada masa itu, banyak naskah-naskah berisi kajian teknologi dari bahasa asing dapat dinikmati masyarakat karena diterjemahkan ke dalam bahasa Makassar. Lontara’ tentang teknologi militer, misalnya tentang pembuatan benteng, kini masih dapat kita temui di Arsip Nasional Makassar.

Jadi, perdagangan hanyalah salah satu dari sekian banyak elemen yang berjalin kelindan dan berdialektika dalam membentuk wajah Makassar abad ke-17. Perdagangan bukan titik sentrum, bukan faktor dominan.

* * *

Lubang besar yang masih menganga dalam studi sejarah kita kini adalah studi tentang sejarah orang-orang bawah, yang juga berperan membangun Makassar menuju sebuah emporium yang disegani. Menurut Paul Thompson (2000) dalam Voice From The Past: Oral History, sejarah orang-orang bawah tidak pernah tercatat dalam arsip-arsip yang biasanya dibuat oleh kalangan atas. Sementara kalangan bawah, yang kebanyakan buta huruf, tidak dapat menuliskan sejarahnya sendiri. Maka, kita mesti menggalinya dari sejarah lisan.

Jadi, sudah saatnya kita tujukan perhatian untuk mengenal Mangkawa si pandai besi, atau Sangkala si penjaga mesjid, atau orang-orang biasa, tokoh-tokoh anonim lainnya untuk melengkapi wajah sejarah Sulawesi Selatan yang masih belum menunjukkan wajah sejarah seutuhnya. Padahal mereka juga merupakan keping peradaban Sulawesi Selatan, yang sayang hingga kini masih dianggap tak ‘bernilai bersejarah’. (p!)

by: Nurhadi Simorok

(spesial thanks !!)

Juli 27, 2006

Tujuh Penyelamat dari Karebosi

kuburannya euyy

Tanpa sebab yang pasti, sejumlah gajah sirkus yang telah dilatih selama bertahun-tahun, tiba-tiba saja mengamuk. Sang pemilik sirkus tentu saja tak habis pikir dengan kejadian aneh ini. Hari itu, pertunjukannya di lapangan Karebosi berakhir kacau. Bukan hanya itu, pagar pengaman sekitar tenda sirkus pun ambruk seketika. Indra, perempuan berusia sekitar 40 tahun, mengenang peristiwa di tahun 1984 itu seraya berkata, “Itulah akibatnya kalau tidak minta izin pada ‘penjaga’ Karebosi”.

Sore itu saya menemui Indra di samping salah satu warung di lapangan Karebosi. Ia bertutur tentang peristiwa gajah sirkus yang mengamuk, juga tentang penjaga Karebosi. Ia tampaknya tahu banyak, dan juga percaya seputar kejadian-kejadian aneh dan kaitannya dengan apa yang disebutnya sebagai penjaga itu. Indra menyebut-nyebut soal tujuh kuburan di tengah lapangan.

Tujuh kuburan itu pulalah yang mengusik rasa ingin tahu saya. Sewaktu masih bersekolah di SD Sudirman IV yang terletak di Jalan Sudirman, saya dan teman-teman sering melihat tujuh kuburan itu, di saat pelajaran olahraga berlangsung di lapangan yang terletak di depan sekolah kami itu. Di suatu malam Jumat, di bulan April, saya sengaja mendatangi kuburan itu. Di sana saya bertemu tujuh orang peziarah.

Menemukan ketujuh kuburan itu di tengah gelap malam, ternyata tak sesulit perkiraan saya. Seseorang yang nongkrong di panggung lapangan, menyarankan untuk mendatangi asal nyala lilin yang ternyata diletakkan di atas masing-masing kuburan. Setelah sampai di sana, saya mengucap salam sama seperti lazimnya ketika berziarah di kuburan umum.

Kelompok peziarah malam itu terlihat khusyuk. Dan di tengah kegelapan, di antara remang-remang cahaya lilin dan temaram lampu merkuri, saya menyaksikan mereka menyalakan sebatang taibani eja atau lilin merah di atas tiap kuburan, menabur bunga, serta membasahi tanah kuburan dengan air. Mereka juga membawa sesajen berupa pisang raja, kelapa muda, dan anak ayam kampung. Semua sesajen itu diangkut dengan sebuah becak, yang sengaja disewa untuk melintasi sayap timur Karebosi untuk keperluan ziarah itu.

Dari penjelasan penjaga kuburan yang bernama Kadir Daeng Naba, saya mengetahui sedikit tentang kelompok peziarah itu. Katanya, mereka itu memiliki warung di pinggir salah satu ruas jalan lapangan Karebosi. Dan keesokan harinya, tibalah saya di warung dimaksud, kemudian bertemu dengan Indra, perempuan yang bercerita tentang penjaga kuburan itu.

Keponakan Indra, seorang anak perempuan berusia sembilan tahun bernama Andi Ani, melengkapi kisah ziarah di malam sebelumnya.. Andi Ani bertutur, bahwa beberapa hari sebelum rombongan mereka berziarah, tantenya yang bernama Suri –yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial, tiba-tiba kesurupan. Melihat Suri yang sedang kesurupan, salah seorang keluarganya lalu mengucap nazar. “Kalau tanteku sembuh, kami akan berziarah ke tujuh kuburan itu,” ungkapnya.

Indra, warga yang tinggal di Jalan Bayam, Makassar, itu menambahkan, kisah gajah sirkus yang mengamuk hanyalah salah satu keanehan yang kerap terjadi di Karebosi. Ia percaya itu. Dan tampaknya bukan hanya Indra yang berkeyakinan demikian. Beberapa orang yang duduk di sekitar kami juga menyetujui pernyataan perempuan berambut pendek itu. Mereka percaya berbagai kejadian aneh seperti misalnya panggung pertunjukan yang roboh atau acara yang berakhir kacau, disebabkan karena campur tangan sang penjaga Karebosi.

Barangkali karena cukup meluasnya kepercayaan bahwa setiap hajatan di Karebosi sebaiknya didahului dengan meminta izin sang penjaga, membuat banyak orang yang mengadakan kegiatan seperti upacara, pertandingan olahraga, pasar malam atau konser musik, biasanya berziarah dulu ke kuburan tersebut. Mereka meyakini kegiatan berziarah itu sebagai pertanda minta izin agar kegiatan yang akan digelar dapat berjalan lancar.

Selain berziarah untuk keperluan meminta izin menyelenggarakan kegiatan, sebagian orang juga meyakini bahwa pemilik tujuh kuburan itu adalah perantara manusia dengan Tuhannya, sehingga doa yang dipanjatkan dari tempat itu berpeluang besar untuk dikabulkan. Kepercayaan itu tak hanya berlaku di kalangan etnis Makassar yang umumnya beragama Islam, tapi beberapa orang keturunan Cina pun biasa berdoa di tempat itu. “Orang yang berziarah memohon berbagai macam permintaan, mulai dari doa agar usaha mereka makin menangguk untung yang besar, hingga meminta kelancaran mencari jodoh,” kata Indra.

Lantas siapa gerangan yang bersemayam di tujuh kuburan itu dan mengapa mereka tidak dikuburkan di kuburan umum saja? Pertanyaan ini juga sebenarnya telah muncul sejak lama di benak saya. Ketika mengikuti kegiatan lari lintas lapangan saat masih SD, saya dan teman-teman biasanya melambatkan langkah setiap melintasi setapak kedua dari pintu masuk sebelah timur Karebosi itu dengan hati yang berdebar-debar. Tapi setelah menatap jejeran kuburan yang tersembul di sela rumput lapangan, kami justru kerap mempercepat langkah karena ketakutan tanpa sebab yang jelas.

Bila merujuk pada sebuah peta kuno yang saya temukan di Museum Kota Makassar, disebutkan bahwa Karebosi dulunya adalah sawah yang merupakan wilayah Kerajaan Gowa. Kalau Karebosi dulunya adalah sawah, maka aneh rasanya mendapati jejeran tujuh kuburan di daerah persawahan. Dan meskipun dalam perkembangan selanjutnya, Karebosi kemudian berubah fungsi menjadi ruang terbuka atau alun-alun kota, kehadiran tujuh kuburan itu tetap mengundang tanda tanya.

kuburan lagi euyy

Dari empat sisi jalan utama yang mengelilingi Karebosi, jejeran tujuh kuburan itu memang tidak tampak menyolok. Ketujuh kuburan itu terletak di sayap timur lapangan, tidak jauh dari tempat latihan Persatuan Sepakbola Makassar (PSM). Dulu saya mendapati kuburan itu tanpa tembok, namun sekarang telah ada tembok setinggi kurang lebih 7 sentimeter mengelilingi gundukannya. Di bagian atas tembok itu dilekatkan tegel keramik berwarna putih berukuran sekitar 10 x 5 sentimeter. Di bawahnya juga telah dilapisi semen.

Di sebelah kiri kuburan yang terbujur dari arah utara ke selatan itu juga dipasangi tegel serupa sebanyak 14 buah yang disusun berjejer dua. Tak hanya itu, di atas tembok masing-masing kuburan juga diletakkan 26 ubin yang disusun dua. Warna ubinnya beraneka ragam, mungkin karena termakan usia. Ada yang abu-abu, putih, merah bata, dan coklat. Dan tidak seperti kuburan pada umumnya, ketujuh kuburan itu tak bernisan.

Dari Kadir Daeng Naba yang telah kurang lebih 35 tahun setia menjaga tujuh kuburan tersebut, setumpuk hikayat mengenai ketujuh kuburan itu terungkap. Daeng Naba bercerita kepada saya dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Makassar. Ia mengatakan, bahwa pemilik tujuh kuburan yang berjejer di Karebosi itu adalah tujuh perempuan bersaudara yang biasa diminta bantuannya untuk keperluan mistik.

Sepulang dari Karebosi malam itu, saya bertemu dengan seorang polisi pamong praja, bernama Rafiuddin. Mengetahui kepulangan saya dari Karebosi untuk mencari tahu tentang tujuh kuburan itu, Rafiuddin lalu menceritakan salah satu pengalamannya ketika sempat ditugaskan berjaga di Karebosi selama tiga tahun. Ia pun berkisah, suatu malam ia didatangi makhluk halus perempuan yang mengaku sebagai salah satu pemilik kuburan tersebut. Namun, makhluk halus yang waktu itu rambutnya dikepang dua memakai pita berwarna merah, menolak dirinya dikatakan sebagai salah satu dari tujuh bersaudara itu. “Tujuh kuburan yang orang maksud itu ada di Takalar,” sebutnya menirukan perkataan perempuan tadi.

Karena Daeng Naba tak tahu persis tentang detail ketujuh bersaudara itu, maka ia menyarankan saya untuk mencari keterangan di Balla’ Lompoa, istana Raja Gowa yang terletak di Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Di sana saya bertemu dengan seorang pemandu bernama Amir. Ia mengatakan tak tahu banyak mengenai tujuh kuburan itu. Namun, ia juga menyangkal bahwa yang bersemayam di kuburan itu adalah tujuh orang bersaudara. Ia yakin tujuh bersaudara yang dimaksud itu dikuburkan di Galesong, Takalar, sekitar 60 km ke arah selatan Makassar. Sehingga orang biasa menyebutnya dengan “Tujua ri Galesong”.

Konon, tujuh bersaudara itu adalah orang yang dikutuk oleh salah seorang wali karena kenakalan yang sering dilakukannya. Karena kutukan itu, arwah mereka masih terkatung-katung di antara bumi dan langit. Setelah kematiannya, orang-orang memanfaatkan arwah mereka untuk keperluan yang negatif seperti mengguna-gunai orang lain. Orang yang berniat seperti itu biasanya meminta bantuan yang bungsu. Konon, si bungsu yang tuna wicara itu dianggap terkejam di antara ketujuhnya. Ia memiliki kemampuan merasuki tubuh seseorang atas permintaan orang lain.

Setelah bercerita di anak tangga museum Balla’ Lompoa, pemandu itupun menyarankan saya bertemu dengan seorang lelaki yang tinggal tak jauh dari Balla’ Lompoa. Lelaki itu bernama Andi Djufri Tenribali. Ia lebih akrab disapa Daeng Pile.

Kening Daeng Pile mengernyit melihat kehadiran saya. Wajar saja, karena sebelumnya kami memang tak pernah berkenalan. Ia pun bertanya tentang tujuan saya menemuinya. Tanyanya berbalas ketika saya memberitahukan keingintahuan saya tentang tujuh kuburan itu. Tangan kirinya menutupi mulutnya yang tertutup dan menatap saya lekat, keningnya pun masih mengernyit. Ia tak langsung mau bercerita panjang lebar. Ia hanya meminta saya menulis apa saja yang ingin saya ketahui tentang tujuh kuburan itu di atas selembar kertas. “Saya akan memilah mana yang bisa saya jawab,” ujar Daeng Pile sambil berjanji memberikan jawabannya dua hari kemudian.

Dua hari kemudian saya menemuinya lagi. Tapi ia belum memberikan jawaban sama sekali. Ia mengaku, dalam dua hari itu ia selalu merasa terhalangi untuk membalas pertanyaan saya di atas selembar kertas juga. “Sepertinya saya harus minta izin dulu sebelum memberi jawaban,” ujarnya. Daeng Pile mengatakan, ia akan meminta izin melalui meditasi, untuk itu ia meminta nama saya yang menurutnya akan disampaikan kepada pemilik tujuh kuburan itu. Jika diizinkan, maka ia baru berani bercerita. Persoalannya, “lebih mudah menghadapi kemarahan orang yang masih hidup daripada yang telah tiada,” kata Daeng Pile.

Katanya, di saat-saat tertentu, ia memang menarik diri dari keramaian lalu berdiam melakukan meditasi di salah satu bilik rumahnya di bilangan Syamsuddin Tunru, Sungguminasa, Gowa, itu. Meditasi itu biasa dilakukannya di malam bulan purnama. Sebelumnya, ia menyiapkan paling kurang tiga sisir pisang, air kelapa muda, dan kain putih sepanjang satu meter. Dalam meditasinya, Daeng Pile berkomunikasi dengan pemilik tujuh kuburan itu. Lama kelamaan, ia pun merasa telah ada semacam benang merah yang terjalin antara mereka. Ia pun diberitahu mengenai siapa, dari mana, dan kapan kuburan itu mulai ada.

Di hari ketiga, saya akhirnya mendapatkan jawaban, meski tak semuanya. Ternyata Daeng Pile kerap pula berziarah ke kuburan itu sejak kurang lebih sembilan tahun lalu. Ia ke tempat itu karena percaya pada apa yang dikisahkan beberapa penutur tradisi yang ditemuinya. Semua cerita mereka seragam, bahwa suatu ketika nanti Makassar dan sekitarnya akan dilanda kekacauan. Pusat kekacauan itu adalah di Karebosi, karena di tempat itulah konon nanti menjadi ajang orang-orang saling bunuh sehingga tanahnya akan digenangi darah hingga pergelangan kaki. Dan yang bisa meredakan keadaan itu adalah tujuh orang yang turun dari langit atas seizin Tuhan. Mereka akan turun tepat di daerah kuburan itu.

Para penutur tradisi juga mengaitkan kejadian itu dengan apa yang tertulis di dalam Al Quran. Dalam kitab suci umat Islam itu, digambarkan munculnya sosok Dajjal yang akan membawa dunia ini pada keadaan kacau balau. Menurut mereka, pada keadaan yang disebabkan oleh Dajjal itu pula ketujuh orang tersebut turun dari langit.

Tapi bukan cuma itu yang membangun keyakinan Daeng Pile. Lelaki yang pernah jadi pemandu wisata di Benteng Fort Rotterdam ini, juga mencari-cari informasi mengenai kuburan tersebut yang kemungkinan saja terselip di antara lembaran naskah-naskah kuno. Dan yang lebih memperkuat keyakinan Daeng Pile itu adalah pengalaman batinnya bercakap dengan pemilik tujuh kuburan itu.

Daeng Pile akhirnya bersedia membagi pengetahuannya tentang tujuh kuburan itu. Maka bertuturlah Daeng Pile, bahwa sejarah kuburan itu dimulai pada abad ke-10. Kala itu Karebosi masih masuk dalam wilayah Kerajaan Gowa-Tallo yang meliputi Sungai Tallo bagian utara hingga Barombong bagian selatan. Waktu itu pusat kota Makassar terletak di Benteng Somba Opu sehingga benteng itu dinamakan pula benteng Makassar. Setelah peperangan antara Kerajaan Gowa dan Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) meletus pertama kali pada 1667 dan dimenangkan oleh VOC, Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667. Dari perjanjian perdamaian ini, pusat Makassar terbagi ke Benteng Jungpandang juga.

Karena masih merasa terancam, VOC yang waktu itu dipimpin oleh Laksamana Muda Cornelisz Janszoon Speelman, menyerang lumbung padi rakyat Gowa dan membumihanguskan Benteng Somba Opu pada 1668-1669. Setelah peperangan kedua itu, VOC akhirnya mengambil alih pusat Makassar yang waktu itu hanya di benteng Jungpandang dan mengubah namanya jadi Fort Rotterdam. Speelman pun mulai unjuk gigi dengan melakukan perluasan kota pada 1670. Master plan perluasan kota itu tetap dilanjutkan oleh pengganti Speelman. Pada 1890 saat Makassar berstatus sebagai kota afdeling, Pemerintah Hindia Belanda berhasil memasukkan Karebosi ke dalam wilayah kota Anging Mammiri ini .

Konon menurut cerita, Gowa di abad ke-10 dilanda keadaan kacau balau. Gowa bagai sebuah rimba tak bertuan. Orang-orang saling beradu kekuatan. Setiap orang ingin membuktikan bahwa, dirinyalah yang terhebat. Dan akhirnya yang lemah tersingkir dari kehidupan.

Suatu hari di kala itu, Gowa dihantam hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar. Peristiwa itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Dan di hari ke delapan, petir akhirnya berhenti berkilat-kilat dan hujan hanya bersisa pelangi dan gerimis seperti benang halus yang jatuh dari langit. Karebosi yang dulu merupakan hamparan luas nan kering lalu digenangi air.

Lantas sekitar ratusan mata rakyat Gowa saat itu tiba-tiba menyaksikan timbulnya tujuh gundukan tanah di tengah hamparan tersebut. Tujuh orang bergaun kuning keemas-emasan pun muncul sesaat lalu menghilang di tengah gerimis. Yang tersisa kemudian hanya tujuh gundukan tanah berbau harum.

Tak ada yang tahu asal muasal ketujuh orang itu. Namun, rakyat Gowa saat itu percaya kalau mereka adalah tomanurung (semacam dewa dalam mitologi Bugis Makassar) yang dikirimkan oleh Tuhan untuk negeri mereka. Kehadiran tujuh orang yang disebut sebagai Karaeng Angngerang Bosi atau Tuan yang Membawa Hujan, pun menginspirasi rakyat Gowa saat itu untuk memberi nama hamparan yang kemudian mereka jadikan sebagai sawah kerajaan itu. Jadilah nama Kanrobosi diberikan pada sawah itu. Kanro berarti anugerah yang Maha Kuasa dan bosi berarti hujan atau bisa juga bermakna kelimpahan. VOC kemudian mengubah nama itu jadi Koningsplein. Setelah penjajah Belanda menyerah, nama itu lantas berubah lagi jadi Karebosi seperti yang dikenal banyak orang dewasa ini.

Kurang lebih lima abad kemudian, di bawah kepemimpinan Batara atau Raja Gowa ke-7, tujuh gundukan tanah itu dihormati sebagai tempat berpijak pertama kali tujuh tokoh kharismatik tersebut. Lantas beberapa orang membentuk tujuh gundukan itu menyerupai kuburan dengan cara tiap gundukan diberi batu sebanyak tujuh buah. Cara ini sering dilakukan orang-orang di jaman dahulu untuk menandai sebuah kuburan.

kuburan ihhh

Seiring berjalannya waktu, berziarah ke tujuh kuburan itu dianggap sebagai salah satu warisan tradisi penghormatan masyarakat dan penguasa setempat kepada tujuh tokoh yang diperkirakan turun dari langit tersebut. Pada saat H.M. Daeng Patompo menjabat sebagai Wali Kota Makassar pada 1965-1978, tujuh kuburan itu sempat ditutup. Namun beberapa orang yang percaya akan mitos ketujuh kuburan itu memugarnya kembali.

Mitos yang diyakini sebagian orang itu mengatakan, bahwa ketujuh tokoh tersebut akan turun lagi ke bumi suatu ketika nanti. Namun, seperti kedatangan mereka semula, akan ada pula kondisi tak menentu yang mendahuluinya. Bahkan keadaan itu telah digambarkan di dalam Lontara dengan kata-kata: jarangji na kongkong sikokko na sitindang, ganca-gancamo cera’. “Hanya kuda (yang merupakan simbol penguasa) dan anjing (sebagai simbol penentu kebijakan), saling gigit dan tendang hingga akhirnya terjadi pertumpahan darah,” kata Daeng Pile mengutip salah satu isi Lontara itu.

Di saat banjir darah itulah, konon katanya di Karebosi akan muncul secara tiba-tiba tujuh balla` lompoa atau istana yang bentuknya serupa. Uniknya, bukan hanya bangunannya yang sama, tapi fisik, roman wajah, perilaku, dan kharisma penghuni istana juga bak pinang dibelah dua. Tapi di antara tujuh tokoh itu ada yang memiliki kharisma paling kuat. Tokoh itulah yang nanti akan jadi pemimpin utama dan menunjuk orang-orang yang dianggap bisa memulihkan keadaan pada saat itu. Dalam kepercayaan mistik Jawa, tokoh itu dikenal dengan sebutan Ratu Piningsit. “Saya memerkirakan tokoh yang pijakannya di tengah itulah yang nanti akan menjadi tokoh berkharisma paling kuat itu. Karena bagi saya, tokoh itu merupakan penyeimbang antara 7 lapis langit dan 7 lapis bumi,” sebut Daeng Pile.

Namun Daeng Pile masih enggan menyebut secara detail persona masing-masing tujuh tokoh tersebut. Baginya hal itu masih tabu untuk diceritakan dan telah jadi konsensus antara dirinya dengan para penutur tradisi, dan mungkin juga dengan ketujuh tokoh tersebut. Ia punya alasan sendiri untuk itu. Menurutnya, dengan menyebut persona ketujuh tokoh itu dapat berpengaruh pada keberadaan seseorang atau negeri dalam berbagai hal, seperti bencana alam, kekacauan, kesengsaraan, yang memengaruhi aspek kehidupan dari rakyat maupun penguasa.

Terlepas dari beragamnya hikayat yang ada, ritual berziarah ke tujuh jejeran makam itu tetap berlangsung hingga hari ini. Mereka datang dengan kepercayaan dan tentunya saja niat yang berbeda-beda. Dan di tengah riuh rendah berbagai kegiatan di Karebosi, dari keramaian pidato politikus di musim kampanye, dari kelincahan kaki para pemain PSM menggiring bola, dari hingar bingar pertunjukan musik, hadir legenda abadi tentang tujuh penjaga Karebosi, yang dipercaya, yang diziarahi, dan menjadi tempat orang-orang menundukkan kepala, berdiam dan berdoa, ditemani nyala lilin merah, taburan kembang, dan sesajen. (p!)

Juli 27, 2006

Dunia Segiempat Karebosi

karebosi rong

Karebosi adalah titik nol kilometer kota Makassar. Sebagai titik awal keberangkatan, Karebosi pun terpilih jadi topik Panyingkul! untuk pertama kalinya. Enam tulisan utama dalam edisi perdana ini ditulis oleh peserta pelatihan citizen journalist angkatan pertama. Banyak cerita yang senantiasa bisa digali dari lapangan di jantung kota ini, dan karena itulah kami ingin menguji, sejauh mana gairah bercerita itu bisa berkembang dan kemudian dibagi kepada pembaca Panyingkul!

Rahmat Hidayat, penulis fiksi yang sedang berada di Amsterdam saat mengikuti pelatihan ini, memanfaatkan ketersediaan literatur dan dokumentasi yang melimpah di sejumlah perpustakaan dan museum di Belanda untuk merekonstruksi suasana Karebosi pada awal abad ke-20. Eksperimen imajiner yang dilengkapi catatan sejarah faktual, misalnya telepon umum yang ternyata sudah ada di Makassar pada tahun 1916, dapat dibaca pada Koningsplein 1916: Percakapan Senja Hari.

Sementara Irayani Queencyputri memilih metode observasi di pagi dan sore hari untuk merekam kesibukan Karebosi pada suatu hari libur. Sejak matahari terbit hingga tenggelam, di Karebosi orang-orang membangun dunianya sendiri melalui beragam rutinitas, seperti yang digambarkan dalam Karebosi Pagi, Karebosi Sore.

Mansyur Rahim meneruskan perjalanan waktu dengan kisah para waria yang tetap setia menghabiskan malam di sisi barat – utara lapangan. Karebosi memang telah lama menjadi rumah kedua bagi para waria, bersama segenap romantika dan problemanya. Dengan menghabiskan malam di salah satu sudut Karebosi, Mansyur Rahim menghadirkan kegalauan kaum marjinal ini melalui Sepi di Tepi Pagi Karebosi.

Dan, Karebosi pun menjadi saksi keteguhan Abanda, seorang anak pengemis yang bertekad mengubah nasib. M. Aan Mansyur menceritakan kisah siswa Makassar Football School itu dalam Bola Nasib Abanda. Aan mengisahkan kegugupan Abanda saat pertama kali naik pesawat udara menuju ke Perancis untuk bermain bola, hingga keyakinannya yang makin kuat bahwa nasib buruk sebagai keluarga pengemis bisa berubah.

Sedangkan dari lapangan basket, hadir cerita tentang Mukhtar, salah seorang pebasket terbaik Sulawesi Selatan yang merawat cintanya dengan membina pemain-pemain muda. Nurhady Sirimorok, penulis yang juga mantan pemain basket mengangkat perjalanan karir seorang atlet yang harus rela menjajal profesi lain demi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia mengemasnya dalam Karebosi dan Cinta Seorang Pebasket.

Sisi lain Karebosi yang diselimuti hikayat dan misteri ditulis oleh Nilam Indahsari melalui ritual ziarah di tujuh kuburan yang berjejer di sayap timur lapangan. Apa yang dipercaya sebagian orang sebagai Tujuh Penyelamat dari Karebosi dihadirkan tidak hanya melalui penuturan para peziarah, tapi juga melalui catatan sejarah dan hikayat di masa Kerajaan Gowa abad ke-16. (p!)

Juli 26, 2006

Peta Penentang RUU APP

Gelombang pro dan kontra terhadap RUU APP (anti pornografi dan porno aksi) seakan tak ada habisnya. Tokoh Islam dan kaum muslimin menuntut agar RUU APP segera disahkan menjadi UU, sedangkan LSM, artis dan non-muslim menolak RUU APP diundangkan. Umumnya alasan mereka karena menghambat kebebasan, merugikan perempuan, berbau Arab, ini urusan pribadi dan bukan Negara, serta banyak alasan lainnya yang mereka kumandangkan. Sedangkan partai politik hanya PDIP dan PDS yang menolak RUU APP, notabene mereka terdiri dari orang-orang nasionalis-sekuler dan non-muslim.Kelompok yang menamakan dirinya ”Aliansi Bhineka Tunggal Ika” berdemontrasi menolak RUU APP di Bundaran HI tanggal 22 April 2006, demo ini diikuti Shinta Nuriah (istri Gus Dur), Inul, Rieke (Oneng), Jajang C. Noer, Ratna Sarumpaet, etnis Cina, bahkan para waria membuka payudaranya sebagai wujud penolakannya. Lihat 1

Dalam sebuah wawancara tentang RUU APP di situs JIL, Gus Dur mengutarakan bahwa Al-Quran kitab suci paling porno di dunia, Gus Dur menyatakan bahwa didalam Al-qur’an ada ayat tentang Ibu menyusui anaknya selama dua tahun berturut-turut. Jika menyusui tentu mengeluarkan tetek, cabul dong ini! Sedangkan dalam Injil tidak ada ayat seperti itu. Kata Gus Dur sambil terbahak-bahak. Lihat 2 & 3 Begitulah gaya Gus Dur menolak RUU APP meskipun secara organisatoris NU mendukung RUU APP, kelihatannya Gus Dur sudah ditinggalkan para Kiai NU.
Bisa anda bayangkan jika yang berucap seperti Gus Dur adalah tokoh non-muslim, bisa jadi demo besar-besaran agar tokoh itu minta maaf atau tuntutan agar tokoh itu dihukum karena telah melecehkan Al-Quran, tetapi tidak ada satupun yang mempermasalahkan ucapan Gus Dur. Entah kenapa?

Jika diamati maka dapat kita buat peta para penentang RUU APP:

1. Orang-orang yang terganggu nafkahnya. Ini umumnya para artis (Inul, Oneng dan sejenisnya) yang terhambat usahanya untuk mencari rezki karena mereka menjual kecantikan, kemolekan tubuhnya dan tarian erotisnya. Termasuk dalam hal ini LSM-LSM yang menjajakan ideologi sekuler Barat (Yeni Rosa dkk.), seperti: demokrasi, emansipasi wanita, kesetaraan gender, HAM, dll, dimana umumnya LSM ini didanai asing.

2. Konspirasi kafir merusak aqidah secara sistematis. Ini dilakukan oleh orang-orang kafir (Ratna Sarumpaet dkk.) dengan tujuan agar semakin jauh umat Islam dari tuntunan Al-Quran dan as-sunnah. Dengan demikian mereka memperalat kaum muslimin dan kita menjadi budak budaya dan produk mereka.

3. Para pengusung ideologi sekuler. Ini termasuk tokoh-tokoh Islam yang menolak RU APP (Gus Dur, Shinta Nuriah, Faisal Basri, Dawam Raharjo, Goenawan Muhamad, dll.), mereka memperjuang ideologi sekuler yang sama sekali tidak ada titik-temunya dengan Islam.
Kita tidak habis fikir, bagaimana mungkin tokoh-tokoh Islam sendiri yang menentang sebuah RUU yang mengakomodasi kepentingan umat Islam, masih layakkah mereka disebut sebagai tokoh Islam. Padahal Allah swt memperingatkan bahwa orang-orang yang bersama orang-orang kafir dalam membela kemaksiaatan maka mereka termasuk golongan mereka (Al-Maidah 51, Ali Imran 100, An-Nisa’ 138-139 & Al-Mumtahanah 1).

Semua argumentasi mereka menolak RUU APP sungguh tidak masuk akal. Mereka menolak karena menghambat kebebasan, sebetulnya kebebasan apa yang mereka perjuangkan, kebebasan tanpa bataskah? Jika ingin bebas maka hidup saja sebagai atheis atau kafir, karena Islam mempunyai nilai untuk membatasi kebebasan seseorang; berperilaku, berucap atau berpakaian ada batasnya.

Mereka menolak karena merugikan kaum perempuan, ini lebih tidak masuk akal lagi. RUU APP berisikan aturan agar perempuan tidak diperalat sebagai komoditas komersial. Perempuan agar dikembalikan kepada fitrahnya sebagai manusia yang mempunyai akal dan kehormatan. Ketika perempuan hanya dihargai karena kecantikannya, sama saja halnya ketika kita menghargai sebuah cincin emas yang indah, tetapi tidak mempedulikan emasnya berapa karat dan berapa gram beratnya. Sadarkah mereka, ketika menjajakan kecantikan dan keseksiannya dengan imbalan sejumlah uang, sebetulnya mereka telah menjadi obyek kepuasan kaum laki-laki. Disamping itu, industri raksasa cosmetic dan fashion (yang umumnya dikuasai Kapitalis Barat) sangat diuntungkan dari budaya hedonis ini.

Mereka juga menolak karena RUU ini berbau Arab. Menggelikan, ketika mereka menolaknya karena berbau Arab, tetapi tanpa ia sadari nama mereka yang menolak juga berbahasa Arab. Jika semua yang berbau Arab mau ditolak, lantas shalat pakai bahasa apa? atau nikah pakai tata cara apa?. Padahal Islam tidak bisa dilepaskan dari yang berbau Arab karena Al-Quran sendiri berbahasa Arab.

Walhasil penolakan terhadap RUU APP sudah menyimpang dari logika akal sehat. Mengaku Islam tetapi tidak mau diatur secara Islam. Mengaku tokoh Islam tetapi menentang penerapan syari’at Islam. Mengaku memperjuangkan perempuan tetapi membiarkan perempuan dilecehkan dan dieksploitasi secara komersial. Maka tepatlah ungkapan KH Athian Ali M. Da’i MA (Ulama Bandung) dalam sebuah debat dengan Nursyahbani (PKB) di Metro TV, bahwa: ”Orang yang tidak beragama yg menolak RUU APP, karena seorang yang beragama tidak akan keberatan diatur secara agama”

Wallahua’lam

Maraji’:
1. www.republika.co.id (23 April 2006): Menolak Pornografi tapi Tolak RUU APP
2. Hidayatullah.com (16 April 2006): Abdurrahman Wahid: “Kitab Suci yang Paling Porno di Dunia adalah Al-Qur’an, ha-ha-ha…”
3. islamlib.com (10 April 2006): ”Jangan bikin aturan berdasarkan islam saja!” Sebagian wawancara Gus Dur diatas telah dihapus oleh JIL, khawatir efek yang ditimbulkannya?